Tulisan Istimewa

KALAU SAYA MATI, PASTI MASUK SORGA

 

Kebanyakan orang Kristen ragu-ragu akan ke mana mereka setelah mati. Tetapi di sini kami ingin mengatakan bahwa seandainya kami mati  PASTI MASUK SORGA. Kami tidak akan masuk NERAKA, kami juga tidak akan mampir dulu di api penyucian. Kami yakin betul kalau mati PASTI MASUK SORGA.

Untuk masuk Sorga bukan sifatnya mudah-mudahan, kebanyakan orang mengatakan “mudah-mudahan.” Untuk masuk Sorga juga bukan TERSERAH TUHAN, kebanyakan orang Kristen mengatakan “terserah Tuhan. Di sini kami ingin memberitahukan kepada siapapun yang membaca tulisan ini bahwa SAYA PASTI MASUK SORGA.

Berikut alasan kami yang alkitabiah:

Pertama : Saya orang yang berdosa (Roma 3:23)

Kedua : Upah dosa adalah maut., jadi SEHARUSNYA saya dihukum di Neraka (Roma:6:23)

Ketiga : Tuhan menebus dosa-dosa saya (Yoh 3:16) Jadi dosa saya telah ditebus Tuhan di dengan kematian di kayu salib

Keempat : Tuhan turun ke alam maut menggantikan hukuman yang seharusnya saya tanggung (Ef 4:9). Jadi saya tidak akan masuk Neraka karena Tuhan telah menggantikan saya dihukum.

Kelima : Saya PASTI MASUK SORGA, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah” Roma 5:9

Bagaimana dengan anda?

GBU.

Posisi alkitabiah, berhati alkitabiah, berpikir alkitabiah

Tulisan Istimewa

Bunda Maria Bukan Bunda Allah

MARIA BUKAN BUNDA ALLAH

Per Mariam ad Jesum adalah ungkapan dalam bahasa Latin yang antinya melalui Maria menuju Yesus. Ajaran ini dihembuskan oleh gereja Katolik sejak konsili Efesus yang pada intinya adalah wajib untuk berdoa kepada Maria karena sebagai jembatan antara manusia dan Allah. Konsep ini tertanam kuat di kalangan umat katolik. Melalui tulisan ini saya ingin membuktikan bahwa konsep tersebut tidaklah alkitabiah.

A. Pengantara itu bukan Maria
“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,” I Timotius 2:5

“Dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel,” Ibrani 12:24

Jadi pengantara kepada Allah bukanlah Maria tetapi Tuhan Jadi secara alkitabiah Maria bukanlah pengantara bagi manusia dan Allah. Maria adalah perempuan biasa yang terpilih sebagai bunda Yesus bukan bunda Allah. Artinya Allah memilih Maria sebagai bunda Yesus ketika Ia menjelma menjadi manusia. Status bunda Yesus hanya berlaku di dunia saja. Status itu tidak berlaku sampai ke Sorga. Sekarang Maria di Sorga bukanlah berstatus sebagi bunda Allah. Ia hanya manusia biasa yang menghuni Sorga. Jadi bunda Yesus dengan bunda Allah adalah dua hal yang berbeda.

B. Maria tidak mungkin bisa mendoakan kita
“Ora pro nobis peccatoribus, nunc et in hora mortis nostrae” doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Istilah tersebut adalah cuplikan dari sebagian dari “Doa Salam Maria.” Konsep yang tidak alkitabiah apabila Maria yang telah mati sanggup mendoakan kita yang masih hidup bahkan orang-orang yang sudah mati.
Dalam dokumen Konstitusi Dogmatis tentang Gereja yang dituangkan dalam Lumen Gentium 66 mengukuhkan pendapat tersebut di atas. Mereka telah melakukan penyimpangan-penyimpangan dan membangun ajara-ajaran yang tidak alkitabiah. Di mana alkitabiahnya adalah orang yang sudah mati (Maria) tidak mungkin mendoakan orang yang masih hidup. Demikian juga Maria yang sudah mati tidak mungkin bisa mendoakan orang yang sudah mati. Saya yakin bunda Maria yang sekarang ada di sorga akan sangat sedih melihat umat katolik yang menghormatinya secara berlebihan. Saya juga yakin bahwa Maria sangat tidak berkeinginan diangkat sebagai BUNDA ALLAH, karena baginya, terpilih sebagai bunda YESUS sudah merupakan anugerah yang tiada tara baginya.

Tulisan Istimewa

Penyimpangan Melalui Ibadah Pelepasan

Ditampilkan dalam blog Indonesia, blog gratis, dengan lampiran buku murah dan buku gratis. Diedit oleh orang-orang yang mencintai ajaran Kristen yang alkitabiah. Kami mengundang anda para penulis yang merindukan karyanya dibagikan secara gratis maupun ingin menjualnya dengan semurah mungkin silahkan iklankan di blog ini.

Artikel ini dirangkum dari buku Gbl. Firman Legowo yang berjudul Ibadah Pelepasan. Di mana di dalamnya dapat dirangkum sebagai berikut:

Konsep yang Tidak Alkitabiah

Pada prakteknya, ajaran tentang ibadah pelepasan sangat bertentang dengan doktrin keselamatan yang alkitabiah. Manifestasi-manifestasi yang berlebihan diperagakan dengan tidak me,perhatikan kaidah yang alkitabiah. Dan mayoritas yang mengikuti ibadah pelepasan adalah orang Kristen itu sendiri. Yang dilepaskan dan yang berperan sebagai si penengking sama-sama orang Kristen. Lalu di mana letak ketidak-alkitabiah-an dari ajaran ini? Orang Kristen masih perlu dilepaskan! Inilah letak kesalahan dalam memahami konsep doktri keselamatan. Bagaimana mungkin orang Kristen yang sudah lahir baru, masih ada iblis di dalamnya? Bagaimana mungkin Roh Kudus yang adalah Allah berdiam bersama-sama di dalam diri orang Kristen yang telah lahir baru? Saya tidak dapat membayangkan efek kesesatan yang sudah, sedang dan akan terjadi pada kekristenan apabila ajaran tentang ibadah pelepasan tidak diluruskan. Efek negatif yang terjadi adalah adanya arus ribuan manusia yang mendatangi Kebaktian Penyembuhan Illahi yang akhirnya bisa dilihat sekarang ini, orang-orang yang mengaminkan ajaran tersebut mengimani Tuhan Yesus dengan salah. Mereka mencari Yesus demi berkat duniawi, demi penyembuhan penyakit, demi karir, demi jodoh, dll. Mereka tidak mencari YESUS YANG MENYELAMATKAN dari dosa.

Si pemegang otoritas dalam ibadah pelepasan biasanya mengeluarkan kata-kata yang berlebihan, seperti “saya perintahkan, saya patahkan, saya tengking, dll.” Itupun diucapkan dalam kata-kata yang meninggi (dalam beberapa kasus kata-kata tersebut disertai dengan teriakan-teriakan histeris). Seolah-olah mereka mengetahui tempat persembunyian iblis di dalam diri orang “Kristen.” Bahkan di kalangan mereka, dari mulut ke mulut dipopulerkan ajaran tentang klasifikasi “keterikatan roh.” Ada yang keterikatan roh zinah, ada yang keterikatan roh rokok, ada yang keterikatan roh judi, dll. Darimana dasar alkitabiahnya? Jawabannya sebenarnya mudah saja, orang-orang yang masih berzinah, berjudi, dll, adalah orang-orang yang belum LAHIR BARU alias belum KRISTEN walaupun KTPnya Kristen.

Konsep Pelepasan yang Alkitabiah

“Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih,” Kolose 1:13. Kata “melepaskan” di dalam bahasa Yunani tertulis “errusato” yang memiliki bentuk aorist passive indicative orang ketiga tunggal dari kata “ruomai.” yang artunya mengirim/ melepaskan/ membebaskan. Merujuk pada konteks ayat tersebut maka orang-orang yang percaya kepada Kristus telah dilepaskan dari kuasa kegelapan. Bentuk aorist adalah bentuk lampau/ past tense sehingga tepat sekali Lembaga Alkitab Indonesia menterjemahkannya dengan kata “telah.” Telah dilepaskan memiliki arti pelepasan terjadi pada orang Kristen yang lahir baru sekali seumur hidup, dan terjadinya pelepasan adalah pada saat mereka percaya dan bertobat serta menerima Kristus sebagai Juruselamat.

Bentuk passive voice kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia biasanya diawali dengan awalan”di” yang berarti “telah dilepaskan.” Sedangkan bentuk orang ketiga tunggal adalah kata ganti orang atau pelaku, “ia”apabila berbentuk kalimat aktif, berhubung kalimat tersebut berbentuk aktif maka ditempatkan dibelakang kata kerja menjadi “nya.” Dalam konteks ayat tersebut “errusato” berarti “telah dilepaskanNya.” Ini menjadi penting demi meluruskan konsep yang tidak alkitabiah yang terjadi pada ibadah pelepasan. Siapa yang dilepaskanNya? Setiap orang Kristen yang telah lahir baru. Siapa yang melepaskan kita? Tuhan Yesus langsung, tanpa melalui penengkingan, tanpa melalui pematahan, dll. Kapan kita dilepaskan? Ketika kita bertobat dan percaya kepada Kristus yang telah mati menggantikan hukuman yang seharusnya kita tanggung dan bangkit pada hari ketiga.

Jadi orang Kristen tidak perlu dilepaskan lagi. Oarng yang belum Kristenlah yang harus dilepaskan oleh Tuhan dengan cara bertobat dan percaya kepadaNya. Apabila kita menemukan seorang Kristen yang jatuh ke dalam perzinahan maka tuntunlah mereka kepada pertobatan, janganlah kita “berlagak” berkuasa dengan tengkingan-tengkingan yang hanya menjadi bahan ejekan iblis. Iblis tidak takut pada tengkingan tetapi yang ditakutkan iblis adalah ketika seseorang bertobat dan percaya kepada Kristus menjadi seorang Kristen yang lahir baru.

Berdoa Yang Benar

“…Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,”Efesus 6:18
Dari ayat ini menunjukkan bahwa berdoa adalah suatu kegiatan yang tidak bisa diabaikan di dalam kehidupan orang-orang Kristen yang telah lahir baru. Kata “προσευχομενο / proseukomeno” berasal dari kata “προσευχομαι / proseukomai” di dalam cuplikan ayat tersebut cukup menjelaskan kepada kita tentang definisi berdoa dilihat dari sudut pandang Alkitab. Proseukomai adalah gabungan kata dari προσ / pros dan ευχομαι / eukomai. Sedangkan akar kata dari eukomai adalah euke yang dapat diartikan sebagai a wish (sebuah kehendak, kemauan, keinginan atau hasrat) Yakobus 5:15, a vow (sebuah janji) Kisah 21:23.The Concise Oxford Dictionary mendefinisikan berdoa sebagai “make devout supplication to God or to object of worship” (melakukan permohonan dengan ketaatan / ketulusan hati kepada Allah atau kepada obyek yang disembah). Dari uraian tersebut. secara alkitabiah definisi berdoa adalah memohonkan sesuatu kehendak dengan ketulusan hati kepada Allah dan berjanji dengan ketaatan iman.

Berdoa Dengan Tulus Hati

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.”Mazmur 145:18

Di dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai untuk “kesetiaan” adaIah “emeth“. “Emeth” lebih tepat diartikan sebagai benar / jujur / sesungguhnya. Permohonan yang benar / jujur / sesungguhnya sangat ditentukan oleh unsur ketulusan hati. Ketika seseorang memohonkan sesuatu kepada Allah, harapannya adalah doanya terkabul. Tetapi terkadang seseorang memohonkan kehendak dengan tidak disertai ketulusan hati.

Seorang saudara pernah datang kepada saya dan mengatakan bahwa berdoa satu jam atau dua jam adalah waktu yang singkat baginya, karena ia sering melakukannya berjam-jam dalam satu hari. Berdoa kepada Allah tidaklah dinilai dari lamanya waktu melainkan dari ketulusan hati. Ketulusan hati adalah hal yang mendasar dan tidak boleh terlupakan. Dengan ketulusan hati doa yang kita panjatkan kepada Allah tidak akan berlawanan dengan kehendakNya, juga tidak akan berlawanan dengan hati nurani kita sendiri.

Maksud dari doa yang melawan kehendak Allah dan hati nurani adalah meminta sesuatu untuk memuaskan keinginan sendiri yang berakibat pada merosotnya pertumbuhan imannya dan terhambatnya pelayanan terhadap Tuhan. Berdoa berjam-jam tidak akan berarti apabila tidak disertai dengan ketulusan hati, sebaliknya doa yang singkat tetapi disertai dengan ketulusan hati sangat berkenan kepada Allah.

praying_hands_over_bible

Berjanji Dengan Ketaatan Iman

Hal lain yang tidak boleh terlupakan di dalam berdoa adalah berjanji dengan ketaatan iman. Seringkali saya menyaksikan seorang saudara yang melalaikan janji-janjinya kepada Allah. Ketika sedang ditimpa masalah ia datang kepada Allah dengan derai air mata, ia mengumbar janji-janji; “Kalau masalah ini berlalu aku akan melayani Tuhan full timer, kalau Tuhan menolong masalah ekonomi keluargaku aku akan mengembalikannya sepuluh persen untuk pekerjaan Tuhan, kalau Tuhan…aku akan…” Dan ketika Tuhan memberi sedikit saja kelegaan kepadanya dengan berbagai macam dalih dan alasan ia melupakan janji-janji yang pernah diucapkan di dalam doanya.

Berjanji dengan ketaatan iman mutlak diperlukan di dalam berdoa, sehingga ketika Tuhan mengabulkan doanya maka ia akan berusaha memenuhi janji tersebut dengan ketaatan iman yang dimilikinya. Allah yang mahatahu pasti mengetahui kesungguhan seseorang di dalam berdoa, Ia juga mengetahui bahwa orang tersebut pasti akan melaksanakan janji-janji yang pernah diucapkan dengan penuh ketaatan iman. Allah tidak pernah salah menilai seseorang. Ia akan mempercayakan segala sesuatu kepada orang yang layak untuk dipercaya, yaitu orang yang meminta kepadaNya dengan ketulusan hati dan berjanji dengan ketaatan iman.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ketika berdoa kita tidak boleh melupakan dua unsur penting, yaitu: Memohon dengan ketulusan hati dan berjanji dengan ketaatan iman.

Pengertian Yang Salah Tentang Berdoa

Berdoa Bukanlah Berpantun

“Alangkah kokohnya kata-kata yang jujur!…”
Ayub 6:25Saya teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat itu saya bertandang ke rumah seorang saudara yang baru bertobat. Suatu ketika saya melihat ada kesempatan yang baik untuk berdoa bersama, kemudian saya memintanya untuk memimpin doa. Tetapi dengan gugup ia mengucapkan satu kalimat singkat “saya tidak bisa berdoa pak!” Setelah saya telusuri rupanya ia mengaku tidak bisa mengucapkan kata-kata yang indah dan tata bahasanya juga tidak begitu baik. Pengertian seperti ini sebenarnya tidaklah alkitabiah, berdoa bukan harus dengan kata-kata yang baik dan dengan tata bahasa yang tersusun rapi layaknya orang berpantun atau berpuisi.

Di dalam pertemuan-pertemuan jemaat, tidak jarang kita menyaksikan seorang saudara yang berdoa selayaknya orang sedang berpantun, bermain-main kata sebelum sampai kepada pokok doa. Ibarat lomba ketangkasan mobil, belok ke kiri, belok ke kanan, berputar-putar, kadang berhenti sejenak kemudian tancap gas, suatu tempo gasnya diperhalus tidak lama kemudian gasnya meraung-raung hingga menimbulkan decak kagum bagi orang yang menyaksikannya. Kata-kata dipermainkan sedemikian rupa, sejenak menangis meraung-raung setelah amin seolah-olah tidak terjadi apa-apa, apakah maksud dari semua itu? Tidakkah lebih baik beberapa kalimat pendek tetapi diucapkan dengan jujur dan tulus? Mengapa masih ada saja saudara-saudara yang menyukai doa-doa yang demikian? Hanya ada dua kemungkinan jawaban:

  1. Memuliakan Allah Dengan Cara yang Salah

    “…Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.”
    Matius 6:7bKita dapat menarik pelajaran berharga dari ayat tersebut, bahwa bukan karena panjangnya kata-kata dan indahnya kalimat yang menjadi unsur terkabulnya doa. Kita harus menghindari pengertian bahwa dengan indahnya kalimat dan panjangnya kata-kata maka Allah akan menyukainya dan mengabulkan doa-doa kita. Ini adalah memuliakan Allah dengan cara yang salah. Allah tidak menganjurkan kita agar berdoa dengan kata-kata yang panjang, tetapi sebaliknya melarang praktek-praktek doa yang seperti itu. Doa yang disertai dengan ketulusan hati dan ketaatan iman adalah unsur terpenting dan terutama di dalam berdoa.

  2. Mencari Kemuliaan Manusia

    “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah,…”
    Matius 6:7aSaya pernah menyaksikan seorang saudara yang sedang menyampaikan firman Tuhan. Di mimbar ia mulai membuka doa yang panjang dan menggebu-gebu kemudian dilanjutkan dengan penyampaian firman Tuhan yang singkat, selanjutnya ia menutup dengan doa yang lebih panjang lagi waktunya dan lebih berapi-api daripada waktu ia berkhotbah. Sebagian hadirin yang menyaksikan hal tersebut akhirnya berdecak kagum sambil berujar “hamba Tuhan ini pandai berdoa.” Secara sadar maupun tidak sadar doa yang bertele-tele akan menimbulkan efek-efek yang tidak baik. Tidak ada istilah “pandai berdoa” di dalam kamus orang percaya. Pandai berdoa hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mencari kemulian manusia. Orang-orang yang haus akan pujian manusia, yang akhirnya melenceng jauh dari makna doa yang sesungguhnya. Inilah doa yang tidak tulus dan penuh dengan kemunafikan.

    Kata “bertele-tele” merujuk kepada kata dalam bahasa Yunani “βαττολογησητε / battologesete” yang dapat diartikan sebagai perkataan yang diulang-ulang dan sia-sia (perkataan yang seharusnya tidak perlu diucapkan). Pengulangan-pengulangan kata dan sisipan-sisipan kata yang hanya memperpanjang doa sepatutnya tidak dilakukan oleh orang-orang percaya. Suatu ketika saya berkesempatan mendengarkan seorang saudara yang berdoa dengan begitu bertele-tele. Pada kesempatan itu pula saya sempat memperhatikan dengan seksama, ada beberapa kata yang terus diulang-ulang oleh saudara tersebut. Kata “urapi,” “berkati” dan “jamahlah” lebih dari sepuluh kali disebutkan, kemudian kata “tengking” tak kalah sering disebut-sebut di dalam doanya. Kenyataan yang terjadi adalah bukan hanya satu atau dua saudara saja yang menyukai doa-doa yang demikian, melainkan sudah dijadikan sebagai hal yang umum dan biasa. Alangkah lebih baik apabila kita berdoa, tidak menirukan cara orang-orang yang belum bertobat yang menyukai doa yang bertele-tele.

    Akhirnya secara jujur harus kita akui bahwa doa yang bertele-tele hanya bertujuan untuk menyukakan telinga manusia, mencari pujian manusia atau lebih tepatnya mencari kemuliaan manusia.

Nafiri Yang Terakhir

Nafiri atau sangkala adalah alat musik tiup terbuat dari tanduk binatang atau lebih dikenal sebagai terompet. Biasanya dipergunakan umtuk mengiringi puji-pujian maupun sebagai “penanda” dimulainya peperangan 1Kor 14:8.

Belakangan dunia dihebohkan oleh terdengarnya bunyi nafiri atau sangkala “Allah” di langit sebagian negara-negara di Eropa sampai Australia. Agar kita tidak mudah terombang-ambingkan dengan berbagai kesalahan menafsirkan fenomena yang terjadi belakangan ini maka berikut adalah fakta alkitabiah tentang bunyi sangkakala.

NAFIRI TERAKHIR BERBUNYI HANYA SATU KALI

Dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah
1Kor 15:52

Cuplikan ayat berikut “τη εσχατη σαλπιγγι σαλπισει / (te eskate salpingi salpisei)” berarti nafiri terakhir hanya berbunyi satu kali, kata “salpisei” dalam bentuk orang ketiga tunggal menjelaskan secara detail bahwa satu sangkakala terakhir akan mengeluarkan bunyi yang hanya sekali dan dahsyat bunyinya, lihat Mat 24:31, bunyinya tidak berkali-kali dan tidak berulang-ulang, bandingkan dengan fenomena yang bunyi yang terjadi baru-baru ini.

NAFIRI INI ADALAH MILIK ALLAH

Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan
1Tes 4:16-17

Kata “σαλπιγγι θεου / (salpingi theou)” bentuk case pada kata tersebut adalah genitive atau menerangkan milik. Jika dipadukan maka nafiri atau sangkakala terakhir ini adalah nafiri milik Allah.

PENIUP NAFIRI ADALAH ALLAH SENDIRI

Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.
Mat 24:31

Memperhatikan ayat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa Allah sendiri meniup sangkakala yang mengeluarkan bunyi yang dahsyat untuk memberi tanda agar para malaikatNya keluar dan membawa orang-orang percaya. Tampaknya sangkalala ini berbeda dengan tujuh sangkakala yang ditiup oleh para malaikat.

SANGKAKALA DITIUP SEBAGAI TANDA ORANG-ORANG PERCAYA DIANGKAT PADA MASA PENGANGKATAN

Dalam 1Tes 4:16-17 tertulis tentang kronologi pengangkatan orang-orang percaya menyongsong Tuhan di angkasa. Dan kehebohan akan terjadi pada saat itu di bumi, yang digambarkan dengan “jika ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan, kalau ada dua perempuan memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” Mat 24:40-41

KESIMPULAN

  1. Fenomena yang terjadi baru-baru ini bukanlah Sangkakala Terakhir Allah karena tidak didengar oleh orang-orang percaya di seluruh dunia.
  2. Karena tidak ada fakta terangkatnya orang-orang percaya maka jelas fenomena tersebut tidak berhubungan dengan Sangkakala Terakhir Allah.

Sekalipun demikian, Kita sebagai orang-orang yang telah lahir baru dianjurkan tetap waspada dan berjaga-jaga menyongsong hari tersebut dengan terus hidup melayaniNya hingga Tuhan datang menjemput kita, Maranatha.

Perceraian Dalam Rumah Tangga Kristen??

Kasus Perceraian yang sering kali terjadi dalam keluarga “Kristen” adalah suatu bukti bahwa sekalipun beragama Kristen tetapi belum tentu Percaya Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pasangan yang terdiri dari orang yang telah lahir baru TIDAK MUNGKIN bercerai kecuali maut yang memisahkan. Demikian sebaliknya…lebih lanjut simak Penjelasan di Video nya