Arsip Kategori: Doktrin Alkitabiah

Berdoa Yang Benar

“…Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,”Efesus 6:18
Dari ayat ini menunjukkan bahwa berdoa adalah suatu kegiatan yang tidak bisa diabaikan di dalam kehidupan orang-orang Kristen yang telah lahir baru. Kata “προσευχομενο / proseukomeno” berasal dari kata “προσευχομαι / proseukomai” di dalam cuplikan ayat tersebut cukup menjelaskan kepada kita tentang definisi berdoa dilihat dari sudut pandang Alkitab. Proseukomai adalah gabungan kata dari προσ / pros dan ευχομαι / eukomai. Sedangkan akar kata dari eukomai adalah euke yang dapat diartikan sebagai a wish (sebuah kehendak, kemauan, keinginan atau hasrat) Yakobus 5:15, a vow (sebuah janji) Kisah 21:23.The Concise Oxford Dictionary mendefinisikan berdoa sebagai “make devout supplication to God or to object of worship” (melakukan permohonan dengan ketaatan / ketulusan hati kepada Allah atau kepada obyek yang disembah). Dari uraian tersebut. secara alkitabiah definisi berdoa adalah memohonkan sesuatu kehendak dengan ketulusan hati kepada Allah dan berjanji dengan ketaatan iman.

Berdoa Dengan Tulus Hati

“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.”Mazmur 145:18

Di dalam bahasa Ibrani, kata yang dipakai untuk “kesetiaan” adaIah “emeth“. “Emeth” lebih tepat diartikan sebagai benar / jujur / sesungguhnya. Permohonan yang benar / jujur / sesungguhnya sangat ditentukan oleh unsur ketulusan hati. Ketika seseorang memohonkan sesuatu kepada Allah, harapannya adalah doanya terkabul. Tetapi terkadang seseorang memohonkan kehendak dengan tidak disertai ketulusan hati.

Seorang saudara pernah datang kepada saya dan mengatakan bahwa berdoa satu jam atau dua jam adalah waktu yang singkat baginya, karena ia sering melakukannya berjam-jam dalam satu hari. Berdoa kepada Allah tidaklah dinilai dari lamanya waktu melainkan dari ketulusan hati. Ketulusan hati adalah hal yang mendasar dan tidak boleh terlupakan. Dengan ketulusan hati doa yang kita panjatkan kepada Allah tidak akan berlawanan dengan kehendakNya, juga tidak akan berlawanan dengan hati nurani kita sendiri.

Maksud dari doa yang melawan kehendak Allah dan hati nurani adalah meminta sesuatu untuk memuaskan keinginan sendiri yang berakibat pada merosotnya pertumbuhan imannya dan terhambatnya pelayanan terhadap Tuhan. Berdoa berjam-jam tidak akan berarti apabila tidak disertai dengan ketulusan hati, sebaliknya doa yang singkat tetapi disertai dengan ketulusan hati sangat berkenan kepada Allah.

praying_hands_over_bible

Berjanji Dengan Ketaatan Iman

Hal lain yang tidak boleh terlupakan di dalam berdoa adalah berjanji dengan ketaatan iman. Seringkali saya menyaksikan seorang saudara yang melalaikan janji-janjinya kepada Allah. Ketika sedang ditimpa masalah ia datang kepada Allah dengan derai air mata, ia mengumbar janji-janji; “Kalau masalah ini berlalu aku akan melayani Tuhan full timer, kalau Tuhan menolong masalah ekonomi keluargaku aku akan mengembalikannya sepuluh persen untuk pekerjaan Tuhan, kalau Tuhan…aku akan…” Dan ketika Tuhan memberi sedikit saja kelegaan kepadanya dengan berbagai macam dalih dan alasan ia melupakan janji-janji yang pernah diucapkan di dalam doanya.

Berjanji dengan ketaatan iman mutlak diperlukan di dalam berdoa, sehingga ketika Tuhan mengabulkan doanya maka ia akan berusaha memenuhi janji tersebut dengan ketaatan iman yang dimilikinya. Allah yang mahatahu pasti mengetahui kesungguhan seseorang di dalam berdoa, Ia juga mengetahui bahwa orang tersebut pasti akan melaksanakan janji-janji yang pernah diucapkan dengan penuh ketaatan iman. Allah tidak pernah salah menilai seseorang. Ia akan mempercayakan segala sesuatu kepada orang yang layak untuk dipercaya, yaitu orang yang meminta kepadaNya dengan ketulusan hati dan berjanji dengan ketaatan iman.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ketika berdoa kita tidak boleh melupakan dua unsur penting, yaitu: Memohon dengan ketulusan hati dan berjanji dengan ketaatan iman.

Pengertian Yang Salah Tentang Berdoa

Berdoa Bukanlah Berpantun

“Alangkah kokohnya kata-kata yang jujur!…”
Ayub 6:25Saya teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat itu saya bertandang ke rumah seorang saudara yang baru bertobat. Suatu ketika saya melihat ada kesempatan yang baik untuk berdoa bersama, kemudian saya memintanya untuk memimpin doa. Tetapi dengan gugup ia mengucapkan satu kalimat singkat “saya tidak bisa berdoa pak!” Setelah saya telusuri rupanya ia mengaku tidak bisa mengucapkan kata-kata yang indah dan tata bahasanya juga tidak begitu baik. Pengertian seperti ini sebenarnya tidaklah alkitabiah, berdoa bukan harus dengan kata-kata yang baik dan dengan tata bahasa yang tersusun rapi layaknya orang berpantun atau berpuisi.

Di dalam pertemuan-pertemuan jemaat, tidak jarang kita menyaksikan seorang saudara yang berdoa selayaknya orang sedang berpantun, bermain-main kata sebelum sampai kepada pokok doa. Ibarat lomba ketangkasan mobil, belok ke kiri, belok ke kanan, berputar-putar, kadang berhenti sejenak kemudian tancap gas, suatu tempo gasnya diperhalus tidak lama kemudian gasnya meraung-raung hingga menimbulkan decak kagum bagi orang yang menyaksikannya. Kata-kata dipermainkan sedemikian rupa, sejenak menangis meraung-raung setelah amin seolah-olah tidak terjadi apa-apa, apakah maksud dari semua itu? Tidakkah lebih baik beberapa kalimat pendek tetapi diucapkan dengan jujur dan tulus? Mengapa masih ada saja saudara-saudara yang menyukai doa-doa yang demikian? Hanya ada dua kemungkinan jawaban:

  1. Memuliakan Allah Dengan Cara yang Salah

    “…Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.”
    Matius 6:7bKita dapat menarik pelajaran berharga dari ayat tersebut, bahwa bukan karena panjangnya kata-kata dan indahnya kalimat yang menjadi unsur terkabulnya doa. Kita harus menghindari pengertian bahwa dengan indahnya kalimat dan panjangnya kata-kata maka Allah akan menyukainya dan mengabulkan doa-doa kita. Ini adalah memuliakan Allah dengan cara yang salah. Allah tidak menganjurkan kita agar berdoa dengan kata-kata yang panjang, tetapi sebaliknya melarang praktek-praktek doa yang seperti itu. Doa yang disertai dengan ketulusan hati dan ketaatan iman adalah unsur terpenting dan terutama di dalam berdoa.

  2. Mencari Kemuliaan Manusia

    “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah,…”
    Matius 6:7aSaya pernah menyaksikan seorang saudara yang sedang menyampaikan firman Tuhan. Di mimbar ia mulai membuka doa yang panjang dan menggebu-gebu kemudian dilanjutkan dengan penyampaian firman Tuhan yang singkat, selanjutnya ia menutup dengan doa yang lebih panjang lagi waktunya dan lebih berapi-api daripada waktu ia berkhotbah. Sebagian hadirin yang menyaksikan hal tersebut akhirnya berdecak kagum sambil berujar “hamba Tuhan ini pandai berdoa.” Secara sadar maupun tidak sadar doa yang bertele-tele akan menimbulkan efek-efek yang tidak baik. Tidak ada istilah “pandai berdoa” di dalam kamus orang percaya. Pandai berdoa hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mencari kemulian manusia. Orang-orang yang haus akan pujian manusia, yang akhirnya melenceng jauh dari makna doa yang sesungguhnya. Inilah doa yang tidak tulus dan penuh dengan kemunafikan.

    Kata “bertele-tele” merujuk kepada kata dalam bahasa Yunani “βαττολογησητε / battologesete” yang dapat diartikan sebagai perkataan yang diulang-ulang dan sia-sia (perkataan yang seharusnya tidak perlu diucapkan). Pengulangan-pengulangan kata dan sisipan-sisipan kata yang hanya memperpanjang doa sepatutnya tidak dilakukan oleh orang-orang percaya. Suatu ketika saya berkesempatan mendengarkan seorang saudara yang berdoa dengan begitu bertele-tele. Pada kesempatan itu pula saya sempat memperhatikan dengan seksama, ada beberapa kata yang terus diulang-ulang oleh saudara tersebut. Kata “urapi,” “berkati” dan “jamahlah” lebih dari sepuluh kali disebutkan, kemudian kata “tengking” tak kalah sering disebut-sebut di dalam doanya. Kenyataan yang terjadi adalah bukan hanya satu atau dua saudara saja yang menyukai doa-doa yang demikian, melainkan sudah dijadikan sebagai hal yang umum dan biasa. Alangkah lebih baik apabila kita berdoa, tidak menirukan cara orang-orang yang belum bertobat yang menyukai doa yang bertele-tele.

    Akhirnya secara jujur harus kita akui bahwa doa yang bertele-tele hanya bertujuan untuk menyukakan telinga manusia, mencari pujian manusia atau lebih tepatnya mencari kemuliaan manusia.

Nafiri Yang Terakhir

Nafiri atau sangkala adalah alat musik tiup terbuat dari tanduk binatang atau lebih dikenal sebagai terompet. Biasanya dipergunakan umtuk mengiringi puji-pujian maupun sebagai “penanda” dimulainya peperangan 1Kor 14:8.

Belakangan dunia dihebohkan oleh terdengarnya bunyi nafiri atau sangkala “Allah” di langit sebagian negara-negara di Eropa sampai Australia. Agar kita tidak mudah terombang-ambingkan dengan berbagai kesalahan menafsirkan fenomena yang terjadi belakangan ini maka berikut adalah fakta alkitabiah tentang bunyi sangkakala.

NAFIRI TERAKHIR BERBUNYI HANYA SATU KALI

Dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah
1Kor 15:52

Cuplikan ayat berikut “τη εσχατη σαλπιγγι σαλπισει / (te eskate salpingi salpisei)” berarti nafiri terakhir hanya berbunyi satu kali, kata “salpisei” dalam bentuk orang ketiga tunggal menjelaskan secara detail bahwa satu sangkakala terakhir akan mengeluarkan bunyi yang hanya sekali dan dahsyat bunyinya, lihat Mat 24:31, bunyinya tidak berkali-kali dan tidak berulang-ulang, bandingkan dengan fenomena yang bunyi yang terjadi baru-baru ini.

NAFIRI INI ADALAH MILIK ALLAH

Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan
1Tes 4:16-17

Kata “σαλπιγγι θεου / (salpingi theou)” bentuk case pada kata tersebut adalah genitive atau menerangkan milik. Jika dipadukan maka nafiri atau sangkakala terakhir ini adalah nafiri milik Allah.

PENIUP NAFIRI ADALAH ALLAH SENDIRI

Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.
Mat 24:31

Memperhatikan ayat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa Allah sendiri meniup sangkakala yang mengeluarkan bunyi yang dahsyat untuk memberi tanda agar para malaikatNya keluar dan membawa orang-orang percaya. Tampaknya sangkalala ini berbeda dengan tujuh sangkakala yang ditiup oleh para malaikat.

SANGKAKALA DITIUP SEBAGAI TANDA ORANG-ORANG PERCAYA DIANGKAT PADA MASA PENGANGKATAN

Dalam 1Tes 4:16-17 tertulis tentang kronologi pengangkatan orang-orang percaya menyongsong Tuhan di angkasa. Dan kehebohan akan terjadi pada saat itu di bumi, yang digambarkan dengan “jika ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan, kalau ada dua perempuan memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” Mat 24:40-41

KESIMPULAN

  1. Fenomena yang terjadi baru-baru ini bukanlah Sangkakala Terakhir Allah karena tidak didengar oleh orang-orang percaya di seluruh dunia.
  2. Karena tidak ada fakta terangkatnya orang-orang percaya maka jelas fenomena tersebut tidak berhubungan dengan Sangkakala Terakhir Allah.

Sekalipun demikian, Kita sebagai orang-orang yang telah lahir baru dianjurkan tetap waspada dan berjaga-jaga menyongsong hari tersebut dengan terus hidup melayaniNya hingga Tuhan datang menjemput kita, Maranatha.

Perceraian Dalam Rumah Tangga Kristen??

Kasus Perceraian yang sering kali terjadi dalam keluarga “Kristen” adalah suatu bukti bahwa sekalipun beragama Kristen tetapi belum tentu Percaya Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pasangan yang terdiri dari orang yang telah lahir baru TIDAK MUNGKIN bercerai kecuali maut yang memisahkan. Demikian sebaliknya…lebih lanjut simak Penjelasan di Video nya