Arsip Kategori: Doktrin Alkitabiah

Konsep Allah Bangsa-bangsa Adalah Berhala

Selamat pagi semua🙋🏽‍♂ apakabar❓

*Allah segala bangsa adalah berhala*

*[[1Tw 16:26/ITB]]* Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit.

ki kol elohe (semua allah-allah) ha ammim elilim (adalah pujaan (buatan) bangsa2 wa *Yahuwah* samayim asa (adalah pencipta langit).

Artinya…
*Yahuwah* adalah Allah pencipta langit dan bumi yang dikenal di dalam *Alkitab* . Allah yang dikenal di luar Alkitab adalah konsep berhala. *Tidak alkitabiah* jika konsep ke-Allah-an muncul dari bangsa Arab, bangsa India, bangsa China, dll.
Menurut Alkitab sebagai kitabnya-kitab, *Yahuwah* adalah pencipta langit dan bumi, *Yahuwah* yang lahir menjadi manusia Yesus menebus dosa semua manusia, yaitu; Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, Allah setiap orang yang percaya padaNya sebagai juru selamat
Dan Allah bangsa-bangsa adalah berhala.📖✝🛐🎯❤🥰

Gbl. Firman Legowo sedang membaca Alkitab

#cumabacaAlkitab

Gereja Alkitabiah

Dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu, Filemon 1:2.

Apakah Gereja itu?

Ada paling tidak 2 tipe orang yang penulis perhatikan tentang bagaimana orang Kristen memahami.
Tipe pertama Gereja adalah sebuah bangunan gedung yang suci dan agung yang dibangun dengan mengubur tulang atau rambut “para rasul.” Area mimbar dianggap suci dan tidak sembarangan orang diperkenankan menginjaknya. “Perabotan2” suci sebagai alat “perjamuan suci” diletakkan di area mimbar yang suci.

Tipe kedua
Gereja bukanlah sebuah bangunan gedung melainkan “orangnya” namun pengertian ini hanya diaminkan dalam “pikiran.” Hampir sebagian besar umat Kristen setuju bahwa gereja bukan berwujud bangunan, gereja adalah kumpulan orang2 percaya. Namun fakta di lapangan berbicara lain, hati mereka mengartikan gereja adalah gedung bangunan. Terbukti, pergi bergereja yang memiliki bangunan gedung yang permanen, megah, mewah, karena dianggap rumah Tuhan. Bangga karenan gedung gereja sudah “berijin” “resmi,” Tata ruang dan tata panggung dibuat sedemikian rupa supaya menjadi “gereja sungguhan.” Bahkan para mahasiswa teologi, calon-calon gembala sudah memimpikan dan mulai menggambar sebuah bangunan gedung “gereja” yang megah sebagai bukti iman mereka, Lalu mulai menggambar sebuah rumah mungil nan asri dan nyaman sebagai rumah “pastori.” Orang yang memahami gereja seperti tipe kedua ini memang agak aneh, memahami dalam pikiran bahwa gereja adalah orang2nya tetapi hatinya masih terikat pada gedung bangunan gereja.

Gereja Alkitabiah

Beberapa kali penulis mendapat cemoohan dari beberapa saudara seiman mengenai keberadaan jemaat alkitabiah yang saya gembalakan. “Gereja kok di rumah sih pak? Gereja kok di ruang tamu? Niat nggak buat gereja, kok main2 begitu? Kok design gerejanya bukan gereja? Saya sedikit tertawa geli juga menghadapi kenyataan ini, karena hampir seluruh umat Kristen beranggapan demikian. Sesungguhnya indikasi gereja pada zaman para rasul adalah di rumah2 anggota jemaat, diruang2 tamu jemaat. Membayangkan ibu Filemon pagi hari sebelum berjemaat, menyiapkan sarapan pagi untuk Filemon dengan menu ikan asin goreng dan sambal trasi, lalu rasul Paulus datang bersiap berkotbah dalam pertemuan itu, tercium bau ikan asin yang tak kunjung hilang. Suasana ini adalah gambaran umum dalam pertemuan jemaat alkitabiah, di ruang2 tamu. Lalu apakah penulis boleh bertanya balik, gereja kok di “gedung?”
Karena ruang tamu maka ditata seadanya dan selayaknya ruang tamu pada umumnya, sofanya disingkirkan sesaat, dll. Apakah mereka “niat buat gereja?” jangan ragukan kesungguhan jemaat di rumah Filemon, mereka bahkan rela mati martir. O…o…o..rupanya pemahaman gereja berpanggung, bertata ruang bak bioskop, bersound system bak “konser” musik tidak ditemukan atau tidak dilakukan oleh jemaat alkitabiah. Bait suci adalah gedung, Masjid adalah gedung, Vihara adalah gedung, Pura adalah gedung, gereja adalah kumpulan orang2 percaya yang memuji Tuhan, belajar Alkitab sama2, dll.

Seandainya…

Seandainya semua orang lahir baru mengaminkan dalam hati bahwa gereja bukanlah gedung maka tidak mungkin ada pembakaran gereja. Ketika bangunan gereja dibakar oleh orang2 muslim, coba perhatikan tayangan2 di televisi2, mereka menangis dan berteriak, “gerejaku dibakar, gerejaku dibakar?” Gereja tidak bisa dibakar dan tidak perlu dibakar, karena gereja bukan gedung bangunan yang khusus dibuat. Kalau pemahaman gereja sudah menjadi benar dan alkitabiah maka seharusnya umat muslimpun akan belajar dan bermetamorfosis dan berkata ” o yang dimaksud gereja bagi orang Kristen itu orangnya bukan bangunannya, makanya kita cari2 gedung gereja tidak ketemu2? Apakah mereka sanggup membakar gereja? Sanggup kalau gereja itu berwujud gedung bangunan. Tetapj mereka akan kesulitan membakar gereja jika pengertian gereja adalah kumpulan orang2 yang lahir baru.

Gbl. Firman Legowo

Imanuel, Allah Lahir Menjadi Manusia

Yesaya 7:14 (TB) Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan *menamakan Dia Imanuel.*

https://alkitab.app/v/f8f9fed7a81c

Fokus di kata *Imanuel*

Et vs Immanu
Beserta vs Ada Bersama

Apakah Arti Immanuel?

Banyak yang mengartikan Immanuel dalam porsi yang kurang tepat. Jika Immanuel diartikan sebagai Allah “beserta” kita, arti ini kurang tepat. Karena menurut “survey” kata beserta memiliki arti yang cakupannya lebih luas. Beserta bisa berarti penyertaan yang tanpa ada subyek di sisi obyek. Misalnya “doaku menyertaimu,” dll.

Dalam bahasa Ibrani, kata “menyertai” dengan cakupan yang lebih luas ini memiliki kata tersendiri yaitu “et,” yang artinya sudah dijelaskan di atas. Contoh kasus pada
Kejadian 21:20, Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.
Kata “menyertai” pada ayat tersebut adalah “et” yang berarti penyertaan Allah tetapi tanpa Allah sendiri berada secara fisik di samping anak itu.

Sementara…
Kata “Immanuel” artinya Allah secara fisik ada bersama manusia. Atau Allah menjelma menjadi manusia dan secara real menginjakkan bumi untuk bersama manusia. Itulah arti Imanuel.

Immanuel berasal dari kata “immanu” dan “el”
Arti immanu sendiri adalah ada bersama (dalam wujud fisik). Untuk menguatkan arti immanu, saya akan mengutip Kejadian 24:25

Lagi kata gadis itu: “Baik jerami, baik makanan unta banyak pada kami, tempat bermalampun ada.”
Pada ayat ini, immanu digunakan untuk menunjukkan bahwa jerami dan makanan unta “ada bersama” gadis itu secara fisik.

Jadi Immanuel adalah Allah yang secara fisik bersama manusia.
Tuhan Yesus adalah Allah yang secara fisik menjadi manusia.

Dinubuatkan dalam Yesaya 7:14, Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel

Digenapi dalam *[[Mat 1:23/ITB]]*6 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan6 melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka7 akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti:7 Allah menyertai kita.

*Immanuel Adalah Nama, Bukan Sebutan*

*Tidak ada seorangpun nama tokoh pada PL yang bernama Immanuel.* Ada beberapa kalangan yang meyakini Immanuel adalah sebutan bagi salah satu raja pada zaman Yesaya. Keyakinan ini “menabrak” arti nama dan mengubah menjadi sebutan.
Kata “semo” dalam bahasa Ibrani sama dengan “onoma” dalam bahasa Yunani yang berarti nama. Dan nama Immanuel hanya diberikan pada Tuhan Yesus, sebab Dia adalah Allah yang secara fisik menjadi manusia dan ada bersama manusia.

Tidak Terbantahkan, Allah Bisa Menjadi Manusia

Maka nama Immanuel yang digenapi pada diri Tuhan Yesus tidak terbantahkan bahwa Allah bisa menjadi manusia secara fisik.
Konsep ini diajarkan sebagai langkah Allah menebus dosa umat manusia. Menanggung dosa umat manusia.

Gbl. Firman Legowo
Allah bisa menjadi manusia.